Prihatin atas Batalnya Sedekah Laut, Warga Gelar Labuhan di Bantul

Bantul – Prihatin dengan pengrusakan persiapan sedekah laut di Pantai Baru pada dua pekan yang lalu, puluhan warga melaksanakan upacara labuhan di Pantai Parangkusumo, Bantul sore ini. Dengan labuhan tersebut, warga berharap kejadian di Pantai Baru tak terulang kembali.

Mengawali upacara labuhan, puluhan warga dengan mengenakan pakaian adat Jawa berkumpul di sebuah pendopo yang terletak di kompleks Cepuri Parangkusumo, Kamis (25/10/2018). Selain itu, lima buah tumpeng dan hasil bumi ditata dalam beberapa tampah dengan ukuran sedang berada di tengah-tengah puluhan orang itu.

Adapun lima buah tumpeng dan hasil bumi tersebut nantinya dilarung ke Pantai Parangkusumo. Sebelum dilarung, seorang pria dengan mengenakan baju putih memimpin doa secara agama Islam. Tak lama setelah memanjatkan doa, puluhan orang itu melaksanakan kembul bujana atau makan bersama.

“Labuhan ini bernama labuhan mantra sakti untuk nuswantoro, dan tahapannya memang doa bersama-sama dulu, kembul bujana lalu melarung tumpeng-tumpeng ke laut,” kata Ketua Pelaksana Labuhan sekaligus Wakil Ketua Gerakan Masyarakat Yogyakarta Melawan Intoleransi (Gemayomi), Lestanto Budiman di sela-sela acara.

Tampak mereka bersama warga sekitar Pantai Parangkusumo menikmati nasi gurih yang terbungkus daun pisang. Tak lama kemudian, prosesi dilanjutkan dengan membawa tumpeng dan hasil bumi ke Cepuri Parangkusumo. Di tempat tersebut mereka kembali memanjatkan doa dan dilanjutkan dengan berjalan bersama-sama menuju pinggir pantai.

Selama perjalanan ke pinggir pantai, terdengar alunan gender yang mengiringi beberapa peserta yang tengah menembang macapat. Prosesi pun dilanjutkan dengan duduk bersama di bibir Pantai Parangkusumo sembari memanjatkan doa sebelum melarung kelima tumpeng dan hasil bumi ke laut selatan.

Larungan di Pantai Parangkusumo, Bantul.

Larungan di Pantai Parangkusumo, Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Usai memanjatkan doa terakhir sebelum melarung, rombongan tersebut mulai berjalan mendekati bibir Pantai dan melarung kelima tumpeng dan hasil bumi ke laut selatan dengan bantuan anggota tim SAR setempat.

“Ini (labuhan) adalah wujud keprihatinan dan protes terhadap diganggu dan dirusaknya kegiatan yang berkaitan dengan budaya oleh sekelompok orang yang memaksakan kehendak. Di mana hal itu dapat memicu perpecahan,” katanya.

“Dengan labuhan ini kita juga minta, mohon kepada Tuhan agar peristiwa seperti kemarin tidak terjadi lagi di Nuswantoro (Indonesia). Karena Indonesia menganut dasar Negara Pancasila yang di dalamnya saling menghormati antar agama satu sama lain,” imbuhnya.

Menurutnya, kegiatan sedekah laut di Pantai Baru adalah kegiatan sarat akan adat budaya yang sudah dilaksanakan turun temurun. Selain itu, makna sedekah laut adalah ucapan syukur dari para nelayan atas hasil laut yang didapatkan untuk penghidupan.

“Syukurnya saja dipanjatkan kepada Tuhan, sama, labuhan ini juga berdoa kepada Tuhan agar Indonesia tidak dicabak-cabik perilaku manusia yang menyebabkan perpecahan.

Larungan di Pantai Parangkusumo, Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

“Mudah-mudahan dengan doa tadi semua kejadian dan semua tindakan sifatnya mengarah ke pertentangan bisa hilang. Selain itu, siapa pun, dari kelompok mana pun diharap tidak melakukan pemaksaan kehendak, merusak apalagi mengintimidasi (acara kebudayaan),” pungkasnya.

Sumber : Detik.com

Related posts