Penyelundupan Koral Ilegal 60 Kg Diamankan di Bandara Hasanuddin

Penyelundupan koral atau karang laut ilegal digagalkan oleh petugas Bandara Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan. Koral yang disimpan dalam dua koper itu diketahui berasal dari Sorong, Papua, dan akan dibawa ke Jakarta menggunakan pesawat Sriwijaya SJ 591.

Dua koper yang berisi 60 kilogram dengan berbagai jenis koral itu disimpan dalam empat boks. Setiap koral dibungkus menggunakan tisu basah dan masih dalam keadaan hidup. Diperkirakan nilai jual koral ilegal itu ratusan juta rupiah.

“Jumlahnya ini 60 kilogram. Ini dari Sorong, mau dibawa ke Jakarta. Ini kan banyak jenisnya, ya. Ada yang jenisnya mahal, ada juga yang biasa. Kita akan identifikasi dulu. Jelasnya pengiriman koral ini tidak memiliki dokumen resmi,” kata Kepala Resor BKSDA Sulsel Johanis Pemandi, Jumat (2/11/2018).

Pengiriman koral ilegal ini terbongkar saat petugas pengamanan Bandara mencurigai dua koper milik seorang calon penumpang, Risman (30), saat melewati mesin X-ray. Dua koper itu akhirnya diperiksa secara manual oleh petugas Bandara bersama pihak Karantina Ikan dan ditemukan empat boks berisikan koral yang dilindungi tanpa ada kelengkapan dokumen dari BKSDA dan Karantina Ikan.

“Jadi, saat petugas periksa manual, ternyata isinya ini adalah koral yang dilindungi. Pemiliknya ini tidak bisa menunjukkan dokumen, berupa surat keterangan dan sertifikat dari kami (BKSDA) dan Karantina Ikan. Makanya kami langsung amankan bersama pemiliknya,” lanjutnya.

“Koral ini biasanya digunakan untuk akuarium hias, suvenir, dan ekspor untuk dijadikan obat-obatan. Kalau dilihat dari jenisnya, ini sudah sangat langka, ya,” tambahnya.

Dari keterangan pemilik, koral ilegal ini ia dapatkan dari seseorang yang ia kenal melalui media sosial. Ia mengaku hanya diperintahkan oleh orang itu untuk menjemput paket koral dari Sorong menggunakan kapal laut.

Setelah sampai di Pelabuhan Makassar, paket itu kemudian ia bawa ke Bandara untuk dibawa ke Jakarta menggunakan pesawat.

“Jadi pemilik koper yang kita amankan ini mengaku hanya disuruh oleh seseorang yang berada di Sorong. Ia disuruh membawanya ke Jakarta dengan upah sekitar Rp 4 juta. Orang itu, katanya, dia kenal melalui media sosial,” paparnya.

Setelah dipastikan koral itu ilegal, barang bukti dan pelaku kemudian diserahkan oleh pihak pengamanan Bandara (avsec) ke pihak Karantina Ikan. Untuk pemeriksaan selanjutnya, barang itu lalu diserahkan lagi ke pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan untuk diproses lebih lanjut.

Sejak beberapa tahun lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melarang keras bisnis koral atau karang laut ini. Pasalnya, koral memiliki banyak fungsi untuk kelangsungan biota lau. Selain sebagai tempat tinggal dan sumber makanan biota laut, koral mampu menyerap gas karbon dioksida di udara hingga membantu mengurangi pemanasan global.

Kasus penyelundupan koral melalui Bandara Sultan Hasanuddin ini juga pernah terjadi pada Agustus 2017. Hampir 2,5 ton jenis koral dari perairan Sulawesi Selatan diselundupkan ke Bali untuk dijual ke Singapura, China, dan Thailand. Diketahui koral ilegal itu milik seseorang warga negara Singapura.

sumber : Detik.com

Related posts