Ekspedisi Borobudur ala Karya Citra Nusantara

Mungkin sebagian orang tidak asing jika ditanya tahu atau tidak mengenai Pelabuhan Tanjung Priok. Namun, jika disodorkan nama Pelabuhan Marunda ? pasti banyak orang geleng-geleng kepala. Paling banter orang yang tinggal dekat sana saja mungkin.

Padahal Pelabuhan Marunda khususnya Pelabuhan Terminal Umum KCN di Marunda adalah masa depan dari Tanjung Priok.

Nah, tentunya kalian juga masih bingung ? apa hubungannya Karya Citra Nusantara yang merupakan kepanjangan dari PT. KCN dan juga adalah perusahan patungan yang dibentuk antara PT. KTU dan PT. KBN dengan ekspedisi kapal Borobudur?

Dengan gagah berani, para pelaut pada abad ke 8 Masehi mengarungi samudera menuju Afrika menggunakan kapal bercadik ganda tanpa mesin. Demi membuktikan sejarah yang terpahat di relief candi Borobudur tersebut, sebuah ekspedisi akbar bertajuk Ekspedisi Kapal Borobudur pun digelar.

Jika dianalogikan, PT KCN sendiri adalah layaknya sebuah kapal yang dipersiapkan untuk menjalani sebuah ekspedisi, dimana jika diimplementasikan adalah ekspedisi dengan misi untuk membangun infrastruktur dan juga meningkatkan potensi pendapatan untuk negara di dunia kemaritiman.

Misi yang berat bukan ? Namun, PT KCN ataupun PT KTU sebagai salah satu induknya dari awal sudah mempersiapkan diri dengan misi tersebut.

Seperti kita kutip dari berita di laman bisnis.com, “Kami melihat bahwa infrastruktur laut masih amat kurang bagi negara Maritim besar seperti Indonesia, sehingga kami juga terpanggil untuk menopang kinerja pemerintah,” ungkapnya.

Sebagai salah satu operator pemegang BUP pengembangan jangka panjang KCN sebagai penopang Tanjung Priok telah direntangkan dalam beleid tersebut. Pemerintah mengharapkan kehadiran KCN sebagai operator pelabuhan umum yang menerima bongkar muat curah, dapat menekan kongesti dan mengurangi kesemrawutan Tanjung Priok.

Perahu yang dipenuhi visi dan misi PT.KCN buktinya saat ini sudah bisa meng­akselerasi kinerja Pelabuhan Marunda. Berdasarkan data tahun lalu, total kunjungan dan volume barang yang ditangani Pelabuhan Marunda telah menembus 33 juta ton, dan terdapat tidak kurang 300 call tiap bulan.

Kinerja itupun dengan catatan bahwa KCN baru mengoperasikan Pier I sepanjang 800 meter, dari 1.950 meter, dari tiga Pier yang direncanakan. Dengan dasar hitungan kon­tribusi yang telah negara terima dari KCN pada 2016-2017, total potensi kontribusi KCN apabila seluruh dermaga Pier I,Pier II dan Pier III  beroperasional mencapai Rp200 miliar  per tahun.

Sebelum mendapat keberhasilan seperti ini, tidak lupa juga PT. KCN dan PT. KTU selaku salah satu induk sudah mengurus segala perizinan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di negeri ini. Salah satu izin yang terpenting adalah izin konsesi pengusahaan jasa kepelabuhanan pada terminal umum curah di Pelabuhan Marunda dengan jangka waktu konsesi selama 70 tahun.

Namun, yang menjadi kendala adalah saat ini adanya gangguan tidak terduga layaknya cuaca yang tidak menentu yang mengakibatkan kapal ini untuk sementara hanya bisa diam terlebih dahulu menunggu banding atas putusan pengadilan yang memenangkan “sang cuaca penggangu” atau bisa kita sebut PT. KBN.

Nah, apakah ke depannya dengan segala profesionalitas PT. KCN dapat mengarungi arus untuk bisa memajukan infrastruktur maritim dan meningkatkan potensi dunia kemaritiman Indonesia layaknya kisah kapal Borobudur yang berhasil menyelesaikan misi mempromosikan budaya Indonesia dan menggali budaya Indonesia yang mungkin ditinggalkan nenek moyang kita di tempat persinggahannya ?

Semoga.

Related posts